Minggu, 11 November 2018

makalah logika informatika penarikan modus ponens,tollens dan silogisme




MAKALAH LOGIKA INFORMATIKA



Hasil gambar untuk logo universitas putra indonesia cianjur





Di susun oleh
Nama:
·         Bimbi Julia syarah
·         Agus Hanan
·         Febri Ramdani
·         Ujang Marpudin
Kelas:
TEKNIK INFORMATIKA
UNIVERSITAS PUTRA INDONESIA




KATA PENGANTAR


Assalamu  Alaikum Wr. Wb

              Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT karena dengan rahmat dan hidayah-Nya lah sehingga Makalah ini dapat terselesaikan. Tak lupa pula salam dan taslim tak henti-hentinya kita haturkan kepada junjungan Nabi Muhammad SAW ,Nabi pembawa obor keselamatan dunia wal akhirat. Amin
              Ucapan terimakasih kami berikan kepada pihak-pihak yang telah memberikan masukan yang bermanfaat sehingga makalah kami ini dapat terselesaikan tepat pada waktunya. Permohonan maaf dan kritikan yang bersifat membangun sangat kami harapkan karena kami menyadari masih banyak kekurangan dan kekhilafan di dalam makalah  kami ini, karena kesempurnaan sesungguhnya hanya datangnya dari Allah SWT. Semoga makalah kami ini dapat bermanfaat bagi para pembaca pada khususnya dan masyarakat pada umumnya.
Wassalamu Alaikum Wr. Wb









                                                                                                                                    Penulis 

Cianjur,4 Desember 2017

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...................................................................................................................... i
DAFTAR ISI.................................................................................................................................. ii
BAB PENDAHULUAN.................................................................................... ........................... 1
A.    Latar Belakang...................................................................................................................... 1
B.     Rumusan Masalah............................................................................................................... 3
C.     Tujuan Makalah................................................................................................................... 3
BAB II PEMBAHASAN................................................................................................................. 4
      A. Penarikan kesimpulan……………………………………………….................................. 
      B. Modus ponens..................................................... 
      C. Modus tollens.................................................... 
      D.silogisme……………………………………………..
BAB III PENUTUP.................................................................. 
     A. KESIMPULAN...............................................................                            
     B. SARAN............................................................................ 13
DAFTAR PUSTAKA............................................................... 14












BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
       Salah satu karya Aristoteles adalah logika yang banyak berisi pengertian, pembuktian silogisme, dan lain-lain. Ini ajaran aristoteles mengenai logika adalah Sylogisme, yaitu keputusan kedua yang tersusun sedemikian hingga melahirkan keputusan yang ketiga. Logika yang dikemukakan oleh Aristoteles dikenal sebagai logika tradisional, yang menjadi tonggak pemikiran logika.
       Pada abad ke_18 Masehi, G.W.Leibniz. ahli matematika berkebangsaan Jerman, pertama kali mempelajari logika simbolik. Ahli matematika yang lainnya yang berjasa dalam pengembangan logika simbolik adalah George Boole, Leonard Euler, dan Bertrand Russel.
       Secara etimologis, logika berasal dari kata Yunani “logos” yang berarti kata, ucapan, pikiran secara utuh, atau bias juga berarati ilmu pengetahuan (Khusumah, 1986). Dalam arti luas, logika adalah suatu cabang ilmu yang mengkaji penurunan-penurunan kesimpulan yang sahih (tidak valid). Proses berpikir yang terjadi disaat menurunkan atau menarik kesimpulan dari pernyataan-pernyataan yang diketahui benar atau dianggap benar itu biasanya disebut dengan penalaran.
       Melalui logika kita dapat mengetahui kebenaran suatu pernyataan dari suatu kalimat dan mengetaui apakah pernyataan pertama sama maknanya dengan pernyataan kedua. Misalkan, apakah pernyataan “jika sekarang adalah hari minggu maka sekolah libur?” untuk menjawab pertnayaan ini tentu kita perlu mengetahui aturan –aturan dalam logika. Contoh lain, misalkan ada dua pernyataan “jika anak pandai maka ia berprestasi di kelas. Jika ia berptrestasi di kelas maka ia di sayangi guru-gurunya?”
       Banyak hal yang perlu kita ketahui mengenai logika. Dengan logika kita dapat mengetaui apakah suatu pernyataan bernilai benar atau salah. Hal terpenting yang akan didapatkan setelah mempelajari logika matematika adalah kemampuan atau keahlian mengambil kesimpulan dengan benar atau salah. Logika matematika memberikan dasar bagi sebuah pengambilan kesimpulan dan dapat dalam banyak aspek kehidupan.

                                                                                                                                              







B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka penulis merumuskan beberapa masalah sebagai berikut:
1.      Apakah penarikan kesimpulan ?
2.      Bagaimana penarikan kesimpulan dengan modus ponens ?
3.      Bagaimana penarikan kesimpulan dengan modus tollens ?
4.      Bagaimana penarikan kesimpulan dengan silogisme?

C.     Tujuan Penulisan
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka adapun tujuan penulis dalam merumuskan masalah tersebut, yaitu sebagai berikut:
1.         Untuk mengetahui penarikan kesimpulan dari logika matematika yang telah di    pelajari sebelumnya.
2.         Penarikan kesimpulan modus ponens
3.         Penarikan kesimpulan modus tollens
4.         Penarikan kesimpulan silogisme










Bab 2
Pembahasan

A.     Penarikan Kesimpulan
 Penarikan Kesimpulan atau Argumen
Jika pernyataan atau proposisi dilambangkan dengan kalimat yang memiliki nilai benar saja atau salah saja, maka istilah sahih atau tidak sahih berkait dengan penarikan kesimpulan, penalaran, ataupun argumen.  Beda kedua istilah menurut Soekardijo (1988) adalah, kalau penalaran itu aktivitas pikiran yang abstrak maka argumen ialah lambangnya yang berbentuk bahasa atau bentuk-bentuk lambang lainnya. Dikenal dua macam penarikan kesimpulan. Yang pertama adalah induksi atau penalaran induktif dan yang kedua adalah deduksi atau penalaran deduktif. Yang akan dibicarakan pada makalah  ini adalah penalaran deduktif atau deduksi. Contoh deduksi atau penalaran deduktif adalah:
Premis 1: Semua manusia akan mati.
Premis 2: Amri manusia.
Kesimpulan: Jadi, Amri pada suatu saat akan mati.
B. Sahih Tidaknya Penarikan Kesimpulan
Perhatikan contoh penarikan kesimpulan ini:
(1) Semarang terletak di sebelah barat Surabaya.
(2) Jakarta terletak di sebelah barat Semarang.
Jadi, Jakarta terletak di sebelah barat Surabaya.
Giere (1984) mencontohkan bahwa dari suatu premis-premis yang bernilai salah akan dapat dihasilkan suatu kesimpulan yang bernilai benar melalui suatu proses penarikan kesimpulan yang valid seperti:
Kuda adalah binatang bersayap.                                 (Salah)
Semua binatang bersayap tidak dapat terbang.          (Salah)
Jadi, kuda tidak dapat terbang                                   (Benar)
Giere (1984) mencontohkan juga bahwa dari suatu premis-premis yang bernilai salah akan dapat dihasilkan suatu kesimpulan yang bernilai  salah melalui suatu contoh proses penarikan
kesimpulan yang valid berikut ini.
Bulan lebih besar daripada bumi.                                (Salah)
Bumi lebih besar daripada matahari.                            (Salah)
Jadi, bulan lebih besar daripada matahari                    (Salah)
 Beberapa Penarikan Kesimpulan yang Sahih
Beberapa penarikan kesimpulan yang sahih atau valid yang akan dibahas pada bagian ini,di antaranya adalah modus ponens, modus tolens, dan silogisme.
              Modus ponens, modus tollens dan silogisme adalah metode atau cara yang digunakan dalam penarikan kesimpulan. Proses penarikan kesimpulan terdiri atas beberapa pernyataan yang diketahui nilai kebenarannya (disebut premis). Kemudian dengan menggunakan prinsip-prinsip logika dapat diturunkan pernyataan baru (disebut kesimpulan/konklusi) yang diturunkan dari premis-premis semula. Penarikan kesimpulan seperti itu sering juga disebut argumentasi. Suatu argumentasi disusun dengan cara menuliskan premis-premisnya baris demi baris dari atas ke bawah, kemudian dibuat garis mendatar sebagai batas antara premis-premis dengan konklusi. Misalkan pernyataan-pernyataan yang diketahui (premis-premis) adalah a dan b, konklusinya c, maka argumentasi tersebut dapat disajikan dalam susunan berikut.
a      ……. premis 1
b      ……. premis 2
\c   ……. kesimpulan/konklusi
Pernyataan a sebagai premis 1, pernyataan b sebagai premis 2, dan pernyataan c sebagai kesimpulan/konklusi. Tanda \ dibaca “jadi” atau “oleh karena itu”.

B.  Modus Ponens

Modus ponen adalah suatu argumentasi yang bentuknyadapat dinyatakan seperti di bawah ini:
                        P  Þ q      premis
                        P               premis
                        -------------------------
                        \  q          Konklusi

sah tidaknya suatu argmentasi ,dapat dikaji menggunakan tabel kebenaran sebagai berikut
p
q
p  Þ q
(P Þ q) Ù p
[(P Þ q) Ù p] Þ q
B
B
B
B
B
B
S
S
S
B
S
B
B
S
B
S
S
B
S
B

Suatu argumentasi dianggap sah atau valid jika argumen tersebut benar untuk setiap kemungkinan premisnya  atau merupakan  tautologi untuk semua nilai kebenaran premis-premisnya.
Dari tabel dapat kita lihat bahwa pada kolom  5 bernilai benar untuk setiap nilai kebenaran premisnya.
Berikut adalah contoh soal dan pembahasannya:

Diketahui cerita sederhana berikut: Jika saya makan di kelas maka saya minum di kelas. Saya makan di kelas. Apakah saya minum di kelas?
Solusi:
Menggunakan Contoh 1 di atas, kita memperoleh kalimat matematika:
p → q
p
Menggunakan Modus Ponens, maka kita bisa menarik kesimpulan q, yang artinya saya minum di kelas.
------
Diketahui cerita sederhana berikut: Jika saya makan di kelas maka saya minum di kelas.  Jika saya minum di kelas maka ruangan kelas menjadi kotor. Saya makan di kelas. Apakah ruangan kotor?
Solusi:
Misalkan:
p : saya makan di kelas
q : saya minum di kelas
r : ruangan kelas menjadi kotor
maka, cerita sederhana tersebut dapat dinyatakan dengan
1: p → q
2: q → r
3: p
Menggunakan Modus Ponens untuk kalimat 1 dan kalimat 3, maka kita bisa menarik kesimpulan q, yang artinya saya minum di kelas. Kalimat-kalimat matematikanya bisa kita ubah menjadi:
1: p → q
2: q → r
3: p
4: q
Dengan menggunakan Modus Ponens untuk kalimat 2 dan 4, kita memperoleh kesimpulan r, yang artinya ruangan kelas menjadi kotor.
2.      Modus Tollens
Misalkan diketahui premis-premis p Þ q dan ~q. Dari premis-premis itu dapat diambil konklusi ~p. Pengambilan kesimpulan dengan cara seperti itu disebut modus tollens atau kaidah penolakan akibat. Modus tollens disajikan dalam susunan sebagai berikut
                        P  q      premis
                        ~q              premis
                        -------------------------
                        \  ~p        Konklusi
contoh
Jika saya makan di kelas maka saya minum di kelas. Saya tidak minum di kelas. Apakah saya makan di kelas?
Solusi:
 kalimat matematika:
p → q
~q
Menggunakan Modus Tollens, maka kita bisa menarik kesimpulan ~p, yang artinya saya tidak makan di kelas
Untuk menguji keabsahanya dapat dilakukan dengan menggunakan tabel kebenaran untuk [(p → q) v ~q] → ~p yang merupakan tautologi

http://mademathika.blogspot.com/ modus tollens
                   


3.      Silogisme
Misalkan diketahui premis-premis p Þ q dan q Þ r. Dari premis-premis itu dapat diambil konklusi p Þ r. Pengambilan kesimpulan dengan cara seperti itu disebut kaidah silogisme. Silogisme disajikan dalam susunan sebagai berikut.
p     q     ……. premis 1
q     r      ……. premis 2
    p   r    ……. kesimpulan/konklusi
Contoh:
1.      Diketahui
Premis 1 : Jika Adi rajin belajar maka Adi lulus ujian
Premis 2 : Jika Adi lulus ujian maka Adi dapat diterima di PTN
Penarikan kesimpulan dari premis–premis tersebut adalah…
Pembahasan:
Misalkan :
 p = Adi rajin belajar
q = Adi lulus ujian
r = Adi dapat diterima di PTN
Premis 1       : p   q
Premis 2       : q   r
Kesimpulan  : ...  p   rJika Adi rajin belajar maka adi dapat di terima di PTNUntuk menguji keabsahannya lihat table kebenaran berikut






BAB 3
PENUTUP
A.    Kesimpulan
            .Secara etimologis, logika berasal dari kata Yunani “logos” yang berarti kata, ucapan, pikiran secara utuh, atau biasa juga berarati ilmu pengetahuan (Khusumah, 1986). Dalam arti luas, logika adalah suatu cabang ilmu yang mengkaji penurunan-penurunan kesimpulan yang sahih ( valid).
            Ada beberapa cara dalam menentukan  penarikan kesimpulan yaitu modus ponens,modus tolens dan silogisme.
Modus ponens dapat ditulis: premis 1            p  q
                                              Premis 2           p ____      
.                                        kesimpulan             .. .     q
Modus tolens dapat ditulis :premis 1          p  q
                                            premis 2          ~ P____      
.                                        kesimpulan          .. . q
Silogisme dapat ditulis:  premis 1  p  q
                                       Premis 2  q→_r_      
.                                 kesimpulan  .. . p→r
    Suatu argumentasi(penarikan kesimpulan) dianggap sah atau valid jika argumen tersebut benar untuk setiap kemungkinan premisnya  atau merupakan  tautologi untuk semua nilai kebenaran premis-premisnya.


 B.     Saran

Dengan penyusunan makalah ini, penulis berharap pengetahuan mengenai logika matematika  dapat diaplikasikan dalam kehidupan atau dapat digunakan dalm banyak aspek kehidupan. Melalui logika kita dapat mengetahui apakah suatu pernyataan benar atau salah. Hal terpenting yang akan didapatkan setelah mempelajari logika matematika adalah kemampuan mengambil kesimpulan dengan benar atau salah.


DAFTAR PUSTAKA
Ahmad djaelani dkk. 2010. Matematika Bilingual. Yrama Widya : Jogjakarta
Mundiri1994. Logika. PT. Grafindo Persada : Jakarta
Soekadijo. 1991. Logika Dasar; Tradisional, Simbolik san Induktif. PT Gramedia Pustaka Utama : Jakarta
Sumaryono. 1999.  Dasar-dasar Logika. Penerbit  Kanisius : Yogyakarta


Tidak ada komentar:

Posting Komentar